Di suatu senja sepulang kantor, saya
masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil
memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta,
juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu menyertai di setiap sore di
musim hujan ini.
Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,…terdengar suara
tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka
keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok
bakso setelah menanyakan anak – anak, siapa yang mau bakso?
“Mauuuuuuuuu. …”, secara serempak dan kompak anak – anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. …
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya
membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu
disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue
semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang – uang itu Emang pisahkan?
Barangkali ada tujuan ?” “Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini
selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun.
Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi
hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana
yang menjadi hak cita รข€“ cita penyempurnaan iman “.
“Maksudnya.. …?”, saya melanjutkan bertanya.