Pernikahan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami
istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri
berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya?
Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi
berisik.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah
seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab
mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara
sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang
istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan
mempunyai anak.
Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa
inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.
Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil
lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri
menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.
Minggu, 18 Agustus 2013
Sebuah Kisah Renungan Dari Broadcast BBM
#Sebuah Renungan Dari Seorang Teman (Broadcast BBM)#
Assalamu’alaykum sahabat-sahabat ku di mana pun kalian berada,
Marilah kita dengarkan cerita dari sahabatku yang lain.
Begini kisahnya …
Ada seorang sahabat bernama Hasan. Orangnya bersahaja. Ia punya “kebiasaan” yang menurut saya sangat langka.
Silahkan di Share, Copas, Dan Lain-Lain, Dengan Tetap Mencantumkan Sumbernya.
“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.” (HR Muslim no. 2674).
Assalamu’alaykum sahabat-sahabat ku di mana pun kalian berada,
Marilah kita dengarkan cerita dari sahabatku yang lain.
Begini kisahnya …
Ada seorang sahabat bernama Hasan. Orangnya bersahaja. Ia punya “kebiasaan” yang menurut saya sangat langka.
Kalo beli sesuatu dari “pedagang kecil”, ia tidak mau menawar,
bahkan seringkali jika ada uang kembalian, selalu diberikan pada
pedagangnya.Pernah suatu saat kami naik mobilnya, mampir di SPBU. Hasan
berkata kepada Petugas SPBU: “Tolong diisi Rp 95ribu saja ya.”Sang
Petugas merasa heran. Ia pun balik bertanya: “Kenapa tidak sekalian Rp
100ribu, pak?”
“Gak apa-apa, isi saja Rp 95rb”, balas Hasan.Selesai diisi bensin,
Hasan memberikan uang Rp 100ribu. Sang petugas pun memberikan uang
kembalian 5ribu.
Hasan berkata: “Gak usah, ambil saja kembaliannya.”Sang petugas
SPBU seperti tidak percaya. Ia pun berucap: “Terima kasih, Pak.
Seandainya semua orang seperti Bapak, tentu hidup kami tidak susah
dengan gaji pas-pasan sebagai pegawai kecil.”Saya tertegun dengan
perilaku Hasan dan juga petugas tersebut.Di dalam perjalanan, saya
bertanya pada sahabat saya tersebut: “Sering melakukan hal seperti itu?”
Hasan menjawab: “Temanku, lakukanlah hal-hal kecil yang bisa kita
lakukan disekeliling kita, yang penting konsisten. Kita tidak akan jatuh
miskin jika setiap mengisi bensin kita bersedekah 5ribu kepada mereka.
Uang 5ribu itu pun tidak akan membuat dia kaya tapi yang jelas membantu
dan membuat hatinya bahagia.
Hiduplah tiap hari seperti matematika, mengalikan sukacita, mengurangi kesedihan, menambahkan semangat, membagi kebahagiaan, dan menguadratkan kasih sayang antar sesama..
Hiduplah tiap hari seperti matematika, mengalikan sukacita, mengurangi kesedihan, menambahkan semangat, membagi kebahagiaan, dan menguadratkan kasih sayang antar sesama..
Sumber: Broadcast BBM al Akh Syarif Ibnu Haydar
Artikel: www.kisahislam.net
Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah IslamSilahkan di Share, Copas, Dan Lain-Lain, Dengan Tetap Mencantumkan Sumbernya.
“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.” (HR Muslim no. 2674).
Kisah Inspiratif Untuk Keharmonisan Rumah Tangga
Seorang teman dari Jeddah bercerita, ketika saya baru menikah
datanglah sahabat saya ke rumah. Saya minta kepada istri untuk membuat
kopi Arab dan menyiapkan korma dan makanan ringan lainnya.
Istri mengetuk dari balik tabir sebagai pertanda termos kopi sudah siap untuk dihidangkan.
Ketika kami mulai meminum kopi, rasanya aneh sekali ?! Ia mem
Istri mengetuk dari balik tabir sebagai pertanda termos kopi sudah siap untuk dihidangkan.
Ketika kami mulai meminum kopi, rasanya aneh sekali ?! Ia mem
ang sama sekali belum bisa membuat kopi yg enak dan belum bisa memasak.
Sahabat saya mengatakan bahwa kita berdua harus menghabiskan kopi
satu termos, untuk menjaga perasaan istri dan memotivasi lebih semangat
membuat kopi yg enak.
Ketika tamu pulang, istri merapikan jamuan maka ia dapati termos dalam keadaan kosong. Ia gembira sekali dan timbul percaya diri.
Saat makan ternyata masakan istri kebanyakan garam sangat asin. Istri saya sendiri yang memasak hanya mampu makan satu atau dua suap saja. Saya teringat dengan pesan sahabat maka saya santap makanan yang dihidangkan dengan lahap tanpa tersisa dalam rangka menggembirakan hati istri dan menumbuhkan rasa percaya dirinya.
Alhamdulillah sekarang istri saya paling pandai memasak diantara keluarganya dan di keluarga kami.
Dalam berumah tangga perlu kesabaran ekstra dan masing-masing hendaklah memberikan yang terbaik untuk pasangannya.
Semoga kisah ini bermanfaat untuk penganten baru dan untuk calon penganten, termasuk untuk kita semua yang sudah lama menikah.
[Kiriman Al-Akh Fariq Al Amri via Status Bram Irawan Kusuma via Menikah Itu Indah]
Ketika tamu pulang, istri merapikan jamuan maka ia dapati termos dalam keadaan kosong. Ia gembira sekali dan timbul percaya diri.
Saat makan ternyata masakan istri kebanyakan garam sangat asin. Istri saya sendiri yang memasak hanya mampu makan satu atau dua suap saja. Saya teringat dengan pesan sahabat maka saya santap makanan yang dihidangkan dengan lahap tanpa tersisa dalam rangka menggembirakan hati istri dan menumbuhkan rasa percaya dirinya.
Alhamdulillah sekarang istri saya paling pandai memasak diantara keluarganya dan di keluarga kami.
Dalam berumah tangga perlu kesabaran ekstra dan masing-masing hendaklah memberikan yang terbaik untuk pasangannya.
Semoga kisah ini bermanfaat untuk penganten baru dan untuk calon penganten, termasuk untuk kita semua yang sudah lama menikah.
[Kiriman Al-Akh Fariq Al Amri via Status Bram Irawan Kusuma via Menikah Itu Indah]
Dipublikasikan kembali: www.kisahislam.net
Aku Wanita Yang Di Poligami
Aku menikah muda. Kala itu, usiaku tak lebih dari 19 tahun dan baru
saja lulus SMU. Wanita yang kuperisteri saat itu bahkan baru 16 tahun.
Ia hanya lulus SLTP, karena keluarganya pun seperti keluargaku, miskin,
tak punya cukup biaya untuk menyekolahkan anaknya lebih tinggi.
Namaku Arman, dan isteriku Salimah. Kami tinggal di sebuah dusun, yang termasuk wilayah sebuah desa kecil, di sisi barat Jawa.
Di desa kami, usia seperti kami bukanlah usia muda untuk menikah, minimal untuk ukuran pada masa itu. Pada zaman sekarang, ukuran itu memang sudah mengalami dinamika. Makin sedikit saja pasangan muda yang menikah. Berbanding lurus dengan makin banyak pula wanita-wanita yang telat menikah. Meski jumlahnya tak sebanyak di kota-kota besar.
Kami menjalani pernikahan dengan segala suka duka yang kami alami. Latar belakang kami dari keluarga yang cukup religious, meski tradisional. Dalam arti, kami masih terbiasa hidup dalam nuansa yang menggabungkan nilai-nilai religi Islam, dengan adat tradisional. Orang Sumatra menyebut kami dari kalangan kaum tua.
Namaku Arman, dan isteriku Salimah. Kami tinggal di sebuah dusun, yang termasuk wilayah sebuah desa kecil, di sisi barat Jawa.
Di desa kami, usia seperti kami bukanlah usia muda untuk menikah, minimal untuk ukuran pada masa itu. Pada zaman sekarang, ukuran itu memang sudah mengalami dinamika. Makin sedikit saja pasangan muda yang menikah. Berbanding lurus dengan makin banyak pula wanita-wanita yang telat menikah. Meski jumlahnya tak sebanyak di kota-kota besar.
Kami menjalani pernikahan dengan segala suka duka yang kami alami. Latar belakang kami dari keluarga yang cukup religious, meski tradisional. Dalam arti, kami masih terbiasa hidup dalam nuansa yang menggabungkan nilai-nilai religi Islam, dengan adat tradisional. Orang Sumatra menyebut kami dari kalangan kaum tua.
Senin, 12 Agustus 2013
Puasa Syawal: Puasa Seperti Setahun Penuh
Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ …
“Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, …” (HR. Tirmidzi, hadits ini hasan shohih)
Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits Qudsi:
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)
Oleh karena itu, untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’ala, maka lakukanlah puasa sunnah setelah melakukan yang wajib. Di antara puasa sunnah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam anjurkan setelah melakukan puasa wajib (puasa Ramadhan) adalah puasa enam hari di bulan Syawal.
Keutamaan Puasa Sunnah 6 Hari di Bulan Syawwal
Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia
mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka
(dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh.”[1]Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal, yang ini termasuk karunia agung dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, dengan kemudahan mendapatkan pahala puasa setahun penuh tanpa adanya kesulitan yang berarti[2].
Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:
Pahala perbuatan baik akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali, karena puasa Ramadhan ditambah puasa enam hari di bulan Syawwal menjadi tiga puluh enam hari, pahalanya dilipatgandakan sepuluh kali menjadi tiga ratus enam puluh hari, yaitu sama dengan satu tahun penuh (tahun Hijriyah)[3].
Keutamaan ini adalah bagi orang yang telah menyempurnakan puasa Ramadhan sebulan penuh dan telah mengqadha/membayar (utang puasa Ramadhan) jika ada, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Barangsiapa yang (telah) berpuasa (di bulan) Ramadhan…”, maka bagi yang mempunyai utang puasa Ramadhan diharuskan menunaikan/membayar utang puasanya dulu, kemudian baru berpuasa Syawwal[4].
Puasa Syawal
sikembar34.blogspot.com - Puasa Syawal kita tahu memiliki keutamaan yang besar yaitu mendapat pahala puasa setahun penuh. Namun bagaimanakah tata cara melakukan puasa Syawal?
Keutamaan Puasa Syawal
Kita tahu bersama bahwa puasa Syawal itul punya keutamaan, bagi yang berpuasa Ramadhan dengan sempurna lantas mengikutkan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka ia akan mendapatkan pahala puasa setahun penuh. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).Itulah dalil dari jumhur atau mayoritas ulama yag menunjukkan sunnahnya puasa Syawal. Yang berpendapat puasa tersebut sunnah adalah madzhab Abu Hanifah, Syafi’i dan Imam Ahmad. Adapun Imam Malik memakruhkannya. Namun sebagaimana kata Imam Nawawi rahimahullah, “Pendapat dalam madzhab Syafi’i yang menyunnahkan puasa Syawal didukung dengan dalil tegas ini. Jika telah terbukti adanya dukungan dalil dari hadits, maka pendapat tersebut tidaklah ditinggalkan hanya karena perkataan sebagian orang. Bahkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah ditinggalkan walau mayoritas atau seluruh manusia menyelisihinya. Sedangkan ulama yang khawatir jika puasa Syawal sampai disangka wajib, maka itu sangkaan yang sama saja bisa membatalkan anjuran puasa ‘Arafah, puasa ‘Asyura’ dan puasa sunnah lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)
Langganan:
Postingan (Atom)